Dari Mana Asalnya Bau Hujan

Dari Mana Asalnya Bau Hujan

Bel sekolah yang kamu tunggu-tunggu kelanjutannya berdering. Kamu bergegas mengambil alih tas, dan, menuju kelas temanmu. Kalian sudah janjian untuk pergi ke rumahnya. Saat berlangsung di koridor, kamu jadi jadi hawa-hawa sejuk; angin mengembus rambutmu. Awan gelap nampak di atas sekolah. Aroma khas menyelinap ke hidung. Kamu mengambil alih handphone dan mengirim message ke dia.

‘udah bau hujan nih! Kapan selesainya? Lama banget deh guru sejarah lo!’

Hayo, siapa di antara kamu yang dulu mencium bau hujan? Kalau dipikir-pikir, aneh rasanya jikalau hujan punya bau. Padahal, kita sudah mampu mencium “bau hujan” sebelum akan hujan turun. Lagipula jarak kita ke awan kan jauh banget.

Tapi, kok, mampu kecium ya? Berasal dari mana sesungguhnya bau yang kita cium itu?

Sebenarnya, yang selama ini orang sebut sebagai “bau hujan” itu bukan terlampau bau dari air hujan. Aroma tersebut dikeluarkan oleh tiga sumber utama: ozon, tumbuhan, dan bakteri.

Sebelum hujan turun, kita pasti sudah mampu mencium aroma-aroma hujan. Jadi, mampu dipastikan sumber “bau” tersebut bukan dari air, tetapi dari ozon. Iya, kita mencium ozon. Mungkin kamu langsung bingung. Ozon? Ozon bukannya hanya molekul O yang bentuknya aja kita nggak tahu?

Sebelum mengulas lebih jauh, kita jadi dari yang ringan dulu deh: asal kata ozon. Ozon itu berasal dari bhs Yunani “Ozein” yang berarti “untuk dihirup”. Jadi, ya, jangan heran kalo mampu kita hirup.

Ozon terbentuk selagi muatan listrik yang ada dari petir mengatasi atom oksigen (O2) jadi dua atom O. Nah, atom-atom O yang lepas ini berikatan bersama dengan oksigen agar membentuk ozon (O3). Ozon itu kemudian terbawa oleh tiupan angin dan petir lantas masuk ke didalam indera penciuman kita.

Setelah awan gelap datang, turun rintik demi rintik hujan. Perlahan-lahan, aroma beri kesegaran itu masuk ke hidung. Menyejukkan rongga dada. Aroma “tanah” ini didalam ilmu ilmu disebut bersama dengan petrichor. Petrichor berasal dari bhs Yunani, “petra” yang berarti “batu” dan “ichor” yang berarti “darah yang mengalir di urat nadi dewa”.

Lalu, dari mana bau petrichor ini berasal?

Kalau ditelisik lebih jauh, sesungguhnya bau ini sudah jadi “mengendap” di didalam tanah, jauh sebelum akan hujan itu turun. Selama musim kemarau, tumbuhan dapat mengeluarkan minyak yang banyak punya kandungan asam lemak: palmitic acid dan stearic acid. Asam-asam ini berfungsi untuk “menahan” benih di didalam tanah agar tidak berkecambah/tumbuh. Soalnya, kan, musim ulang kering. Kalau semua benih di didalam tanah tumbuh, nanti dapat banyak tumbuhan yang hidup. Artinya, mereka perlu bersaing untuk ngedapetin air bersama dengan lebih berat.

Seiring berjalannya waktu, minyak dan material organik ini terbang dari tanah kering ke lumpur atau bebatuan. Kumpulan senyawa ini lantas mengendap di sana, dan, ketika hujan turun, senyawa-senyawa ini “terbang” ke udara. Dari sini lah aroma itu mampu kelanjutannya kita cium dan kenali.

Makanya, jikalau kamu perhatiin, bau hujan ini dapat jadi lebih menyengat ketika sebelumnya jarang hujan.

Faktor lain yang menyebarkan bau hujan berasal dari bakteri yang mengeluarkan senyawa bernama geosmin. Geosmin ini adalah senyawa yang mirip yang membuat buah bit punya rasa yang “agak agak ketanahan”. Adapun bakteri yang mengeluarkan ini adalah streptomyces dari golongan bakteri gram positif.

Nah, turunnya hujan ini mengganggu senyawa yang tersimpan di didalam tanah. Akhirnya, tercium deh aroma petrichor.

Para ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) apalagi dulu mengungkapkan rahasia di balik aroma petrichor ini. Mereka meneliti air hujan yang menetes bersama dengan kamera bersama dengan kecepatan tinggi.

Saat tetesan air hujan menyentuh permukaan tanah berpori, tetesan itu dapat memipih gara-gara berkurangnya energi kinetik. Alhasil, terbentuk gelembung udara.

Selanjutnya, penyerapan air oleh tanah tetap berlangsung, dan, mengakibatkan si gelembung terlilit dan membesar. Gelembung hawa ini dapat pecah ketika menyentuh permukaan teratas dari tetesan air.

Nah, sewaktu gelembung ini pecah, zat “berbau” dan senyawa kimia itu lepas agar mampu kita hirup.

Oke, oke. Sekarang sudah tahu, kan, dari mana bau hujan itu berasal. Kalau sudah sekarang kita lanjut ke pertanyaan: “Apa sih gunanya bau hujan ini?”

Kamu jangan berpikir jikalau petrichor ini cuman berfungsi untuk memberitahu kita dapat turunnya hujan… dan sebentar ulang kita nangis di samping jendela gara-gara mendadak kangen. Perichor ini terhitung punya faedah membuat hewan.

Unta, misalnya. Bau petrichor lah yang menuntun unta agar mampu menemukan oasis di padang gurun. Si unta minum air, lantas kelanjutannya membawa bakteri tanah ini ke selama gurun. Selain unta, petrichor yang terbawa ke sungai dan danau terhitung berfungsi untuk mengimbuhkan tanda bagi ikan untuk berkembang biak.

Jadi, intinya, bau hujan yang kita cium adalah senyawa yang dihasilkan makhluk hidup selama melalui “masa-masa kemarau”. Makanya, aroma ini lebih kuat jikalau sebelumnya lama nggak hujan. Kalo sering-sering aja pasti gak sebegitu dashyat.

Wah, ternyata itu dia sumber bau hujan yang selama ini kita hirup. Nggak disangka, ya, jikalau aroma beri kesegaran itu berasal dari tiga sumber yang berbeda. Mulai dari ozon, tumbuhan, dan bakteri yang ada di didalam tanah.

Baca Juga :