Jangan Paksa Anak Mendapatkan ‘Nilai Baik’ Pada Rapor Sekolah

Jangan Paksa Anak Mendapatkan ‘Nilai Baik’ Pada Rapor Sekolah

Balikpapanstore.id – Jangan menilai kemampuan anak dari nilai yang dia dapatkan, dan jangan paksa anak kita untuk mendapatkan nilai baik. Nilai yang ada pada buku rapor bukanlah nilai yang sesungguhnya, karena nilai tersebut tidak dapat dijadikan patokan tentang bagaimana kemampuan asli dari anak tersebut. Einsteinpun mengatakan, ‘jangan mengukur kura-kura dari kemampuannya memanjat pohon’.

    Setiap manusia memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda di dalam dirinya. Bisa jadi seseorang lemah dalam hal eksak dan kuat dalam hal lainnya, dan bisa jadi sebaliknya. Maka jika menilai anak dari nilai yang dia dapatkan di dalam buku rapor, secara tidak langsung kita menginginkan anak tersebut menjadi seperti apa yang orang tua inginkan, bukan tentang apa yang anak tersebut inginkan.Tidak orang tua sadari bahwa anak tersebut akan tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan. Takut dan malas untuk pergi ke sekolah, karena melihat sekolah menjadi sebuah institusi pendidikan yang mengerikan.

    Orientasi pendidikanpun akan berubah, pendidikan yang seharusnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan membentuk moral etika manusia justru melenceng jauh. Belajar tidak lagi untuk ilmu pengetahuan, tapi belajar untuk mendapatkan nilai baik, belajar utuk mendapatkan pekerjaan. Tujuan tersebut tentu sudah tidak lagi sejalan dengan hakikat tujuan pendidikan.

 

    Pendidikan akan ilmu pengetahuan, moral, dan etika bukan lagi menjadi pendidikan yang utama meskipun pembelajaran akan hal tersebut tetap menjadi suatu yang dominan. Namun orientasi dasar siswa telah berubah, pengharapannya hanya sebatas pada ‘nilai yang baik’, sebuah nilai yang dianggap baik dalam masyarakat. Sehingga dengan nilai tersebut seorang siswa akan mendapatkan predikan/ status dalam masyarakat yang dicap sebagai siswa berprestasi, siswa terbaik, bintang kelas dan lain sebagainya.

    Bagi mereka yang selalu mendapatkan nilai yang ‘tidak baik’, maka akan menjadi anak yang minder dan hilang kepercayaan dirinya. Pelarian anak-anak tersebut biasanya lebih pada hal-hal negatif seperti membolos dari jam pelajaran, tawuran, mabuk-mabukan, hingga menggunakan narkoba. Anak-anak semcam ini melihat sekolah bukanlah kegiatan yang menyenangkan, justru sebuah kegiatan yang menyiksa mereka selama bebera jam setiap harinya. Tidak ada kesadaran akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Hal terpenting dari sekolah adalah ‘nilai yang baik’ pada rapor. Pada akhirnya sekolah melahirkan tiga bentuk lulusan siswa yang baik secara nilai dan moral etika, siswa yang baik secara nilai dan minim moral, atau yang minim kedua-duanya baik ilmu maupun nilai.

     Sehingga jangan heran jika banyak kita melihat orang berpendidikan dan memiliki nilai yang memuaskan namun minim akan nilai etika dan moral. Penghambaan pada ‘nilai yang baik’ dalam rapor sudah menjadi budaya dan tradisi dalam masyarakat Indonesia. Anak-anak yang seharusnya dapat bermain dengan bebas terus dibayangi dengan rasa takut akan tuntutan orang tua mereka yang mengharuskan mereka mendapatkan nilai yang baik pada pelajaran sekolah.

     Saya cukup beruntung karena orang tua saya tidak pernah menuntut nilai yang baik kepada saya. Bahkan orang tua saya tidak pernah menuntut saya untuk belajar keras. Pesannya cukup sederhana, ‘belajarlah di kelas dan pahami semaksimal mungkin, jangan berorientasi pada nilai, tapi jadikanlah ilmu pengetahuan sebagai tujuan dari pembelajaran’. Suatu waktu saya bertanya kepada bapak saya, mengapa harus demikian. Bapak saya memulai penjelasannya dengan sebuah cerita masa sekolahnya dulu. “bapak dulu waktu sekolah dari SD sampai SMA itu selalu dalam pringkat satu, kalaupun turun paling juga ke pringkat ke-dua, sampai pada akhirnya bapak duduk dibangku kelas dua SMA, disitu bakap berpikir, apa gunanya nilai yang bagus-bagus tersebut. Apa bisa berguna untuk hidup bapak setelah SMA? Ternyata tidak, ada sesuatu yang jauh yang lebih penting dari hanya sebatas nilai, yaitu kita ingin jadi apa setelah selesai sekolah nanti”. Pengalaman itulah yang dijadikan oleh bapak saya untuk mendidik anak-anaknya, termasuk saya dan adik saya.

      Pengambilan rapor kelulusan adalah momentum yang sangat mendebarkan saat SD dulu, bagaimana tidak, saya tau kalau aka nada nilai yang kurang dalam buku rapor saya. Sebab ketakutan saya sederhana, saya takut dimarahi dan diomeli oleh ibu dan bapak saya saat mereka mengambil dan melihat hasil rapor saya. Alih-alih akan dimarahi, respon dari ibu dan bapak saya cukup mengejutkan, hanya mengatakan ‘bejar yang lebih giat lagi le’. Padahal saya tahu, kalau ada beberapa nilai merah di dalam buku tersebut. Pengalaman masa kecil tersebut sepertinya membentuk pemikiran dan sikap saya saat ini. Takut anaknya tumbuh dengan otak yang tidak bekerja optimal, orang tua saya membawa saya ke psikater untuk melakukan tes IQ, tapi lagi-lagi Alhamdulillah, ternyata hasil tes tersebut cukup mengejutkan orang tua saya. Bahkan tes di tempat lainnya juga menunjukkan hasil yang sama tidak jauh berbeda. Toh ternyata saya tumbuh tidak bodoh-bodoh amat.

       Maka biarkanlah anak tumbuh dengan bakat dan kemampuan uniknya masing-masing. Hal yang lebih utama adalah ‘jangan bandingkan kemampuan anak kita dengan anak lainnnya yang menurut kita memiliki kemampuan di atas anak kita’. Setiap mansuia memiliki jalan hidupnya masing-masing, tugas dari manusia adalah mengupayakan kehidupan yang baik dan layak dengan cara yang baik dan dibenarkan secara hukum negara dan agama. Jangan pernah memaksakan kehendak akan sesatu hanya untuk terlihat hebat di mata orang lain, terutama dalam diri anak kita. Sehingga sekolah dan institusi pendidikan lainnya tidak lagi menjadi tempat yang menyeramkan, justru menjadi tempat yang menyenangkan.

Baca Artikel Lainnya: